Rabu, 14 April 2010

BAB III MENGENAL KEAGUNGAN ALLAH


Perlunya manusia mengenal Allah SWT, karena Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan, memberikan rezeki, memelihara mereka, dst. Karena jika manusia tidak mengenal Allah SWT pastilah mereka menyembah Allah SWT dengan salah, yang dengan sendirinya ibadah yang mereka lakukan akan sia-sia. Adapun dalil-dalil eksistensi Allah SWT adalah naqli, akal, fitrah, panca indra, dan sejarah. Semua dalil tersebut terdapat dalam ayat-ayat Allah SWT baik qauliyah maupun kauniyah, yang menjadi landasan metode mengenal Allah SWT. (QS. Al-Jatsiyah : 3-4)
Menurut Ibnul Qayyim, ma’rifat sebagaimana dikatakan oleh Raghib bermakna memahami sesuatu dengan memikirkan dan merenungkan terhadap pengaruhnya. Ma’rifat itu merupakan ilmu yang harus dilaksanakan, sehingga meliputi ilmu dan amal secara total. Namun ma’rifat tersebut lebih banyak menyangkut aktivitas hati.

Pentingnya Mengenal Allah 
 Kita butuh mengenal Allah dengan kasih sayang-Nya berupa kenikmatan dalam beramal dan beribadah (QS. Thahaa : 124 ; QS. Al-Baqarah : 216,268 ; QS. Al-Insyirah : 8 ).
• Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu hidupnya (QS. 51 : 56 ) dan tidak tertipu oleh dunia.
• Ma’rifatullah merupakan ilmu tertinggi yang harus dipahami manusia (QS. 6 : 122).
• Memahami ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan kepada cahaya yang terang (QS. 6 : 122).
• Berhubungan dengan objeknya, yaitu Allah Sang Pencipta.
• Berhubungan dengan manfaat yang akan diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, yang dengannya akan diperoleh keberuntungan.

Jalan Mencapai Ma’rifatullah 
1. Melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT (ayat kauniyah) (QS. Ali-Imran : 190-191)
2. Merenungi dan mentadabburi ayat-ayat qauliyah (QS. An-Nisa : 82)
3. Memahami dan mencontoh asmaaul husna (QS. Al-Hasyr : 24)

Dinding Penghalang Ma’rifatullah
1. Kesombongan (QS. 7 : 146 ; QS. 25:21)
2. Dzalim (QS. 4 : 153)
3. Pengukuran diri dalam lingkup kebendaan dan keinderaan (QS. 2 : 55)
4. Dusta (QS. 7 : 176)
5. Membatalkan janji dengan Allah SWT (QS. 2 : 26-27)
6. Lalai (QS. 21 : 1-3)
7. Kelengahan (QS. Al-‘Araf : 17)
8. Berbuat kerusakan
9. Banyak berbuat maksiat
10. Taklid (sikap meniru tanpa berfikir) (QS. Al-Baqarah : 170-171)
11. Sikap keras kepala dan menentang (QS.Al-Hajj : 8-9)

Refleksi Ma’rifatullah
 Jika akar ma’rifah ditanam di bumi hati, akan tumbuh pohon cinta. Jika pohon itu telah besar dan kuat, ia akan membuahkan ketaatan. Allah akan memberikan cahaya-Nya pada orang bertaqwa, jalan mencapai sifat taqwa adalah :
1. Mu’ahadah (mengingat perjanjian )(QS. Al Fatihah : 5)
2. Muroqobbah (merasakan kesertaan Allah) “Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika memang kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihat kamu.” (HR. Muslim)
3. Muhasabah (intropeksi diri) (QS. Al Hasyr : 18)
4. Mu’aqobah (pemberian sanksi). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khatab ra pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan sholat Ashar. Maka beliau berkata : “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah sholat Ashar!,,,kini kebunku aku jadikan shadaqah buat orang-orang miskin.”
5. Mujahadah (optimalisasi dengan sungguh-sungguh) (QS. Al-Ankabut : 69)


 Kita butuh mengenal Allah dengan kasih sayang-Nya berupa kenikmatan dalam beramal dan beribadah (QS. Thahaa : 124 ; QS. Al-Baqarah : 216,268 ; QS. Al-Insyirah : 8 ).
• Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu hidupnya (QS. 51 : 56 ) dan tidak tertipu oleh dunia.
• Ma’rifatullah merupakan ilmu tertinggi yang harus dipahami manusia (QS. 6 : 122).
• Memahami ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kebodohan kepada cahaya yang terang (QS. 6 : 122).
• Berhubungan dengan objeknya, yaitu Allah Sang Pencipta.
• Berhubungan dengan manfaat yang akan diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, yang dengannya akan diperoleh keberuntungan.

Jalan Mencapai Ma’rifatullah 
1. Melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT (ayat kauniyah) (QS. Ali-Imran : 190-191)
2. Merenungi dan mentadabburi ayat-ayat qauliyah (QS. An-Nisa : 82)
3. Memahami dan mencontoh asmaaul husna (QS. Al-Hasyr : 24)

Dinding Penghalang Ma’rifatullah
1. Kesombongan (QS. 7 : 146 ; QS. 25:21)
2. Dzalim (QS. 4 : 153)
3. Pengukuran diri dalam lingkup kebendaan dan keinderaan (QS. 2 : 55)
4. Dusta (QS. 7 : 176)
5. Membatalkan janji dengan Allah SWT (QS. 2 : 26-27)
6. Lalai (QS. 21 : 1-3)
7. Kelengahan (QS. Al-‘Araf : 17)
8. Berbuat kerusakan
9. Banyak berbuat maksiat
10. Taklid (sikap meniru tanpa berfikir) (QS. Al-Baqarah : 170-171)
11. Sikap keras kepala dan menentang (QS.Al-Hajj : 8-9)

Refleksi Ma’rifatullah
 Jika akar ma’rifah ditanam di bumi hati, akan tumbuh pohon cinta. Jika pohon itu telah besar dan kuat, ia akan membuahkan ketaatan. Allah akan memberikan cahaya-Nya pada orang bertaqwa, jalan mencapai sifat taqwa adalah :
1. Mu’ahadah (mengingat perjanjian )(QS. Al Fatihah : 5)
2. Muroqobbah (merasakan kesertaan Allah) “Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika memang kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihat kamu.” (HR. Muslim)
3. Muhasabah (intropeksi diri) (QS. Al Hasyr : 18)
4. Mu’aqobah (pemberian sanksi). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khatab ra pergi ke kebunnya. Ketika pulang didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan sholat Ashar. Maka beliau berkata : “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah sholat Ashar!,,,kini kebunku aku jadikan shadaqah buat orang-orang miskin.”
5. Mujahadah (optimalisasi dengan sungguh-sungguh) (QS. Al-Ankabut : 69)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar